Berasal dari kota kecil, Aanisah Yaasmiin berhasil magang ke Korea Selatan lewat program IISMA 2023.

Nama saya Aanisah Yaasmiin Fadillah, berasal dari kota Lubuklinggau yang sedang menempuh pendidikan diploma jurusan Bahasa Inggris di Politeknik Negeri Sriwijaya. Saat ini sedang di menempuh pendidikan di Ulsan College, Korea Selatan lewat program Indonesia International Student Mobility Award 2023. Mendapat kesempatan untuk pergi ke negara yang sangat terkenal dengan musik ber-genre K-POP nya adalah suatu hal yang tidak pernah saya bayangkan. Rasanya susah sekali untuk bermimpi sebesar itu karena saya berasal dari kota yang kecil dari sebuah provinsi Sumatera Selatan. Jangankan pergi ke Korea, untuk mencapai ke Universitas Besar dan Terkenal di Indonesia seperti Universitas Indonesia, Institut Teknologi Bandung, dan Universitas Gadjah Mada saja rasanya sangat kecil kemungkinan untuk dapat memijakkan kaki ke Universitas besar seperti itu. 

Saya sangat bersyukur bahwasanya Politeknik Negeri Sriwijaya khususnya jurusan Bahasa Inggris sangat mendukung mahasiswanya untuk meraih mimpi sebesar besarnya. Lewat program Indonesia International Student Mobility Awards ini, Mahasiswa Sarjana sampai Vokasi dapat merasakan kesempatan untuk belajar di luar negeri selama satu semester, dan dibiayai penuh oleh pemerintah. Politeknik Negeri Sriwijaya sangat memberikan fasilitas kepada mahasiswanya untuk mendaftar program IISMA ini seperti memberikan fasilitas Try Out dan memberi kesempatan mahasiswa untuk mendapatkan tes TOEIC gratis, dan juga mahasiswanya mendapatkan bimbingan essay serta konsultasi lainnya mengenai program IISMA ini. 

Sebelum keberangkatan ke negara Host University masing masing, para IISMA Awardees 2023 mempersiapkan keberangkatannya dengan mengikuti Pre-Departure Series serta ikut serta dalam challenge yang dipersiapkan oleh IISMA. Di PDS tersebut, para Awardees mendapatkan bekal serta informasi yang sangat berguna untuk digunakan di Negara tujuan. Dengan waktu satu bulan, banyak sekali ilmu dan materi yang didapatkan dari PDS tersebut. Selain PDS, terdapat challenge yang sangat menambah wawasan kita. Contohnya seperti The Sustainable Development Goals challenge, dan Massive Open Online Courses.

Tiba saat berangkat, kami ber-14 dengan selamat mendarat di Bandar Udara Internasional Incheon, Korea Selatan. Rasanya tidak percaya dapat memijakkan kaki ke negara yang saya impikan dari dulu. Setelah sampai, kami dijemput oleh pihak Ulsan College dan langsung menuju ke kota Ulsan yang memakan waktu sekitar 5 Jam dari kota Incheon. Ulsan College sangat memberi fasilitas yang baik kepada kami. Mereka selalu memastikan kami aman dan nyaman saat menempuh pendidikan disini.

Selain kegiatan belajar di kampus, kami juga mengikuti challenge Industrial Exposure dari program IISMA. Salah satu tempat yang kami kunjungi adalah Ramada Encore Hotel Busan, serta Busan Exhibition and Conference Center. Disana, kami belajar tentang Perhotelan khususnya Hotel Ramada Encore tersebut, serta mendapatkan kesempatan untuk melihat beberapa room type yang ditawarkan oleh Ramada Encore ini. Contohnya seperti Superior Room, Suite Room, dan Studio Room. Setelah itu, kami mengunjungi Busan Exhibition and Conference Center untuk menghadiri acara 24th Busan International Travel Fair. Disana kami melihat serta belajar menyiapkan event dengan skala Internasional.

Selain itu, para Ulsan College awardees dari program Indonesia International Student Mobility Award ini mendapat kesempatan untuk menjadi bagian di Festival 2023 University of Ulsan. Kami menjadi ambassador dari Indonesia, dan memperkenalkan makanan serta benda benda dari Indonesia. Beberapa makanan dan minuman khas Indonesia seperti Indomie dan kopi Good Day yang sangat meraih komentar positif dari warga lokal serta warga internasional lainnya. Kami juga menyiapkan beberapa Batik untuk diperlihatkan dan memberi kesempatan bagi pengunjung untuk mencoba pakaian khas Indonesia tersebut.

Semua perjalanan ini, tidak akan tercapai tanpa usaha dan doa. Semua kesempatan ini akan saya pakai sebaik-baiknya untuk menjadikan diri ini lebih baik dan dapat berguna bagi bangsa Indonesia. Demikian perjalanan yang dapat saya sampaikan, Saya ucapkan Terima Kasih sebanyak banyaknya kepada Politeknik Negeri Sriwijaya terutama jurusan Bahasa Inggris yang sangat mendukung serta memberikan fasilitas kepada saya untuk mengikuti program beasiswa ini. Lalu saya ucapkan terima kasih kepada pihak Indonesia International Student Mobility Award tahun 2023 yang memberikan saya kesempatan luar biasa ini. Saya harap, cerita saya dapat membuka mata teman teman bahwasanya dari manapun kalian, semua impian dan mimpi akan terwujud dengan usaha dan doa. Usaha dan Doa tidak akan mengkhianati hasil.

admin
M. Arif Ramadhan; Se-utas Benang di Tenggara Korea Selatan

Muhammad Arif Ramadhan. Itulah nama anak laki-laki kelahiran 22 November dari keluarga sederhana dan besar di kota Pempek, Palembang, Sumatera Selatan. Nama ini memberikan kebanggaan yang luar biasa bagi keluarga, kampus, dan dirinya sendiri. Bagaimana tidak, segala kerja keras, tenaga, dan dedikasi yang ia berikan selama menuntut ilmu berhasil membawanya kuliah ke luar negeri dengan menjadi salah satu awardee dalam program Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) 2023 di Ulsan College, Korea Selatan. Skema program mobilitas pelajar Indonesia di luar negeri yang dilakukan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan memungkinkan ia tumbuh menjadi komunitas global, memperluas jaringan internasional, dan menjadi wakil Indonesia di kancah dunia.

Namun, perjalanan yang ia lalui ternyata lebih menantang dari yang ia bayangkan. Kegagalannya untuk masuk ke SMA terbaik di Palembang, ditinggalkan oleh sosok ayahnya selama-lamanya, dan hidup dalam perekonomian keluarga yang tidak stabil merupakan pukulan telak dalam kehidupan yang menyadarkannya bahwa hidup akan selalu memberikan banyak hal yang tidak terduga. Masa-masa sulit tersebut harus ia lalui untuk tetap bertahan hidup dengan menempatkan keluarga sebagai prioritas utama sekaligus motivasinya untuk terus berkembang dan menjadi lebih baik. Sekali lagi, masa-masa itu tidak mudah, namun ia berhasil. Pada tahun 2021, Arif memulai perjalanan pendidikan tingginya di Politeknik Negeri Sriwijaya Jurusan Bahasa Inggris. Jurusan dimana tempat ia dibentuk, memperoleh keterampilan, dan meraih segala cita-cita yang tidak pernah ia impikan sebelumnya hingga ia mampu menembus program pendidikan IISMA 2023 di Ulsan College, Korea Selatan.

Seperti yang telah disampaikan sebelumnya, kehidupan selalu memberikan banyak hal yang tidak terduga. Keberhasilan memasuki program IISMA 2023 tidak hanya memberinya status sebagai Awardee tetapi juga sebagai Student Representative. Seseorang yang telah dipilih untuk mengambil tanggung jawab merangkul, mendukung, dan memimpin para awardee yang berada dalam satu Host University di seluruh Indonesia untuk menjadi keluarga kecil yang kuat. Pada tanggal 25 Agustus 2023, ia dan 13 awardee lainnya memulai petualangan pendidikan mereka di Ulsan College. Salah satu perguruan tinggi vokasi yang terletak di bagian tenggara Korea Selatan di kota yang damai dan tenteram bernama Ulsan. Di sini Arif mengenyam pendidikan akademis dan mendapatkan banyak pengalaman mengesankan selama satu semester menjadi mahasiswa Global Business yang fokus pada Industri Hospitality dan Pariwisata. Mulai dari mata kuliah yang membantunya mengembangkan pemahaman lebih luas mengenai industri yang digelutinya, seperti penerapan Eco Tourism, Customer Relationship, hingga penerapan Sustainable Tourism. Tak hanya mengemban pendidikan akademis, ia juga bertanggung jawab memimpin beberapa festival budaya untuk memperkenalkan budaya Indonesia di kancah dunia, seperti Ulsan University Festival 2023, Global Market Festival, dan Hyundai World Culture Festival 2023 yang merupakan festival yang disponsori langsung oleh Perusahaan otomotif terbesar, Hyundai. Kesempatan luar biasa seperti ini tentu menjadi kebanggaan baginya. Sebab ia bisa menjadi representasi langsung dalam mempromosikan ragam makanan dan budaya khas Indonesia ke kalangan internasional seperti Rusia, China, Kanada, dan Amerika. Respon positif dan antusias masyarakat internasional terhadap kegiatan yang ia dan kawan-kawan lakukan secara tidak langsung semakin menambah semangat nasionalisme mereka untuk semakin mengenalkan budaya Indonesia. Selain menjalankan kegiatan kebudayaan, Arif juga menciptakan pengalaman tak terlupakan di industri tempat ia bekerja dengan bekerja sebagai Banquet Server bersama Ulsan Lotte Hotels & Resorts pada Konferensi Internasional “The 14th NEAR General Assembly 2023” di UECO, Korea Selatan. Merupakan suatu kehormatan dan kebanggaan baginya untuk dapat berkiprah bersama perusahaan hotel terbesar di Ulsan dengan bertanggung jawab atas persiapan tempat, jamuan makan, dan pelayanan kepada pejabat dari negara lain yang hadir dalam acara tersebut.

Terlepas dari berbagai aktivitas yang dijalaninya, statusnya sebagai mahasiswa internasional memang menuntut Arif beradaptasi dengan segala perbedaan selama berada di sana. Keterbatasan bahasa, perbedaan budaya, dan sistem pendidikan yang berbeda dengan Indonesia membuatnya  harus segera mencari solusi terbaik agar tetap produktif. Tapi ini masalah kecil baginya. Ia cukup dewasa untuk belajar mengevaluasi kesalahan dan mencari solusi terbaik agar bisa berkembang lebih baik. Ia beradaptasi dengan baik dengan lingkungan baru dengan mengikuti kelas bahasa Korea untuk mempertajam komunikasinya dalam bahasa Korea. Mengingat sebagian besar masyarakat lokal di sini harus lebih fasih dan memahami komunikasi dalam bahasa Inggris, hal ini seringkali membuatnya kesulitan dalam bersosialisasi saat pertama kali tiba. Apalagi perbedaan sistem pendidikannya berbeda dengan yang dialaminya di Indonesia. Akademisi di sini tidak terlalum peduli apakah mahasiswa memahami materi, memperhatikan atau tidak, dan mengerjakan tugas atau tidak. Itu semua kembali ke individu masing-masing. Yang terpenting, mereka telah menjalankan kewajiban dan tugas sebagai akademisi. Menghadapi hal tersebut, Arif biasanya mengulas materi secara mandiri di waktu senggang yang ia miliki jika memerlukan pemahaman lebih atau bahkan bisa membuat janji langsung dengan akademisi untuk mengadakan pertemuan mengkaji materi secara pribadi. Solusi seperti inilah yang membuatnya  tetap produktif meski menghadapi berbagai macam perbedaan.

Segala hal baik maupun hambatan serta tantangan yang dihadapi Arif selama berada di sini akan selalu mendorongnya untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Perbedaan-perbedaan yang dihadapinya selama berada di sini bukan dianggap sebagai kelemahan negara yang ia datangi, namun menjadi tantangan baginya untuk mampu beradaptasi dan bertoleransi terhadap segala perbedaan yang ada. Juga, pengalaman luar biasa yang ia ciptakan akan membuatnya tumbuh menjadi agen profesional Indonesia di masa depan. Atas segala pengalaman, keberhasilan, dan kegagalan yang dialaminya, Arif ingin mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang senantiasa mendukung dan menyalurkan kecintaannya pada seluruh bagian perjalanan spektakuler ini. Keluarga, sahabat, dan kampus akan selalu menjadi pendukung terbaik sepanjang sejarah pendidikannya.

admin
Siswanda Trialoka; a Journey Of Beginning

3 MONTHS AT SHANNON COLLEGE OF HOTEL MANAGEMENT

Siswanda Trialoka is my name. I was born and spent my whole life in the oldest city of Indonesia, Palembang, South Sumatra. When it was time to continue my education at the university level, I chose Sriwijaya State Polytechnic. Currently, I am in my fifth semester majoring in English Language, focusing on Hospitality. I am currently being fully supervised by the head of my department, namely Dr. Yusri, S.Pd., M.Pd. Studying hospitality and English simultaneously trained me to become a future global hotelier.

Since childhood, I have always had an interest in the culinary field. It started with my mother who worked as a cook and I always really liked her cooking. However, because she worked quite far away and would only come home a few days a month, I could not eat his cooking every day. I felt that the food bought outside was not very satisfying, so I often cooked my food at home. As a consequence, cooking has become my hobby and even my passion. Apart from cooking, another thing that makes me happy is when I can please people with my cooking. Based on these things, I am sure to enter the world of hospitality.

In line with my major at Sriwijaya State Polytechnic, through the IISMA (Indonesian International Student Mobility Awards) Program 2023 I chose to spend one semester at Shannon

College of Hotel Management. It was founded in 1951 and Its graduates have made a major contribution to the development of the Hospitality and Tourism Industry in Ireland as well as international achievements. Nowadays, SCHM (Shannon College of Hotel Management) has grown from a small private college to a school in the top 2% of universities in the world. In 2015, Shannon College merged with the University of Galway and became one of three Schools within the University’s Faculty of Business, Public Policy, and Law.

At SCHM, they apply a direct practical learning system. During the orientation period, students are exposed to important information, ones of which are a list of class names and lesson schedules. Shannon College divides the classes into 5 those are Alsace, Beaujolais, Chablis, Dezaly, and Epernay. Meanwhile, the lesson schedule is divided into two types, namely practical classes and theory classes. For the first semester, there are five practical classes that each class must take. Using a rotation system, Alsace, Beaujolais, Chablis, Dezaly, and Epernay take turns attending five practical classes for six days per practical class. These classes are Life Skills, Kitchen, Restaurant

Service, Accommodation Services, and Information Technology. Meanwhile, theory classes such as accounting and management are held together for all students in a large classroom called Forte or Banfi.

My intention is to become a real hotelier who can work according to international standards.

By participating in the IISMA Program, I managed to receive firsthand hospitality experience from the experts at SCHM. henceforward, I want to continue to help many people in the same field as me. In the near future, I want to become a mentor for juniors as well as introduce Shannon College so that they can get the same opportunities as me. Furthermore, I want to work applying what I have learned in hotels throughout Indonesia.

EXPERIENCE

During my three months at Shannon College, I did and experienced many valuable things. The three things that have the most lasting impression on my heart are that I studied in Practical and Industrial-based Classes, participated in the Indonesian Night event, and had the opportunity to visit Adare Manor, one of the best resorts in the world.

Practical and industrial-based Classes

The learning system at SCHM is to apply industry-based learning and this is exactly what made me fall in love with Shannon College. Life Skill, Kitchen, Restaurant Services, Accommodation Services, and Information Technology are the five practical classes that the first

semester student must take. one practical class will take six days in a row, and only then will it continue with the next class. for example, in the first week of class Beaujolais will be in the kitchen for six days in a row, while Chablis will be in Restaurant Service at the same time and so on. During these six days, students will learn and experience real hospitality firsthand. The best practice class to use as an example is kitchen and restaurant service. while Beaujolais cooks preparing food in the kitchen, Chablis will be in the restaurant and prepare the restaurant to be a place that can be used according to the standards of fine dining in a five-star hotel. at one in the afternoon, when it is time for lunch, the students will start to get busy serving guests who come from other students, staff, teachers and lecturers, campus guests, and alumni. By only

paying 5 euros, these guests can experience a complete fine dining experience starting from starter, main course, and dessert. Likewise with other practical classes. housekeeping classes are held at the airport hotel, Park In, while Information Technology and Life Skills are held in classrooms and computer labs.


Indonesian Night 2023

Indonesian Night 2023 is one of the events that we, awardees, are holding with the aim of introducing Indonesian culture in Ireland, especially at Shannon College. The name Indonesian Night is inspired by the name “Pasar Malam” which refers to a festival or carnival where there are usually children’s games and some classic snacks and local traditional food. In accordance with this explanation, at this event, we were proud to bring and introduce several goods and foods that are typical of Indonesia.

During the preparation time, we divided the job desk according to each person’s abilities at the home university. For example, awardees from the event management department are responsible for planning the entire event starting from the rundown and decorations, some are tasked with being talents in charge of performing typical Indonesian dances and songs, and so on. I myself work in the Food & Beverage section according to my expertise. A few days before the event, I spent some of my time sorting out the menu and looking for recipes that could be cooked with the tools and ingredients available there. After searching, finally everyone agreed to cook Terang Bulan, Rendang, and Cimol based on my recommendation. With the help of other friends, I started cooking these three foods one day before the event because our event was held on Monday evening after a full day of classes. Surprisingly, everyone liked my cooking and Rendang was the main star that night.

Apart from the food station, there are also several other stations such as traditional clothing stations, games, photobooths. What’s even more exciting is that we also invite everyone to do Maumere dance and take a quiz with questions about Indonesia at the end of the event.

Visit Adare Manor

Adare Manor is located on the banks of the River Maigue in the village of Adare, County Limerick, Ireland. Built in the early 19th century, Adare Manor was once a royal residence but has now been adapted to become a five-star luxury hotel and resort. In fact, currently Adare Manor has been named the number 1 Resort in Europe by Condé Nast Traveler 2023, awarded a five-star rating by Forbes Travel Guide 2023, and number one Resort in the World by Condé Nast Traveler 2022.

On November 23 we had the opportunity to visit and get a direct tour from the staff who are also SCHM alumni. When I first entered the hotel door to the meeting room, I was stunned by the luxury of the decoration in the hotel. All the furniture and decorations seem to have been carefully chosen so as to give a luxurious impression to anyone who sees them. The first tour starts from their signature room. The rooms are extraordinarily luxurious and comfortable equipped with complete facilities and advanced technology. Everything looked very neat and orderly, truly reflecting the standards of a world-class five-star hotel. From the room windows, guests can enjoy views of the

expansive golf course or the fast-flowing river depending on their choice. The buildings and alleys look very antique, giving a unique impression to a hotel.

After seeing the rooms, the tour continues with a walk to see the facilities available in the hotel. We walked through the halls to the Great Hall, the Drawing Room, the Library, the Oak Room as well as its terrace, and also the gallery. Walking past the colonnade, we came to the boutique, then to the cinema, spa or relaxation room, and swimming pool. Next, we were also invited to take a walk

outside the hotel and see other facility buildings that were separate from the main hotel building. The view outside is no less good than inside the hotel. With a green and spacious golf course and a calm atmosphere. As someone who has an interest in the world of hospitality, I saw and learned many things regarding service standards and sops at Adare Manor. I am sure this visit will be very beneficial for my future hospitality career.

LESSON LEARNED

Collaboration

The experience of living with twelve people who have different backgrounds and abilities made me develop my collaboration skills. Before iisma, i was a person who believed that i should be able to do everything myself. However, after living, studying, working, and surviving with them, i became aware that each individual has a role according to their respective abilities. For example, during indonesian night, everyone has their own role to make the event a success. In essence, I learned to be able to trust and rely on other people who are experts in their fields to create great collaborations.

Confidence

There is no doubt that IISMA has helped me increase my self-confidence. morevore, Shannon College of Hotel Management provides a learning environment that helps the development of each student through comments and feedbacks from lecturers both in class and on assignments that have been given. As a result, I can now know my strengths and weaknesses well and have a positive view of myself.

CONCLUSION

I first offer my gratitude to Allah SWT. it is all because of His goodness that I was able to reach this point. secondly, let me appreciate myself for successfully going through all the obstacles and challenges that existed from start to finish. Furthermore, thank you also to my family and friends who have always been there and supported all my activities throughout the IISMA program. I would also like to thank the Sriwijaya State Polytechnic lecturers who have helped and provided adequate facilities for me and my friends to achieve their dream of becoming IISMA 2023 awardees. My highest appreciation to Shannon College of Hotel Management for helping and facilitating me and friends who had studied there for three months or more. lastly and most importantly, I wholeheartedly express my deepest thanks to the Indonesian Embassy, the Ministry of Education, Culture, Research and Technology, the IISMA team and staff; Thank you because it was only with your help that I able to achieve my dream of studying abroad.

Being able to be one of the IISMA awardees at the Shannon College of Hotel Management was a very valuable experience for me. I managed to use the short three months to study hospitality in more depth through practical classes, going on fun trips, and holding memorable events for me

and my friends. morevore, I can also reap many beneficial life values from my fellow awardees, as well as the friends and lecturers at SCHM. I really hope that the IISMA Program will continue to exist in the following years and that there will be many other host universities that can collaborate with IISMA. Lastly, I also hope that there will be more students who will have the opportunity to become the next IISMA awardees.

admin
Dayenti Amalia; Cerita menyenangkan berkuliah di Korea Selatan

Perkenalkan saya Dayenti Amalia. Saya mahasiswi semester lima Prodi Bahasa Inggris di Polteknik Negeri Sriwijaya yang sekarang sedang melaksanakan program Indonesia International Student Mobility Award 2023 di negara yang sangat terkenal akhir-akhir ini yaitu Korea Selatan. Lulus pada program Indonesia International Student Mobility Award 2023 adalah hal yang sangat tidak disangka dalam hidup saya. Saat kecil, saya selalu bermimpi untuk pergi belajar ke luar negeri. Tetapi, memasuki perguruan tinggi di Indonesia saja sangat susah, bagaimana saya bisa melanjutkan mimpi itu? Sejak semester satu, saya jarang memikirkan untuk mencari hal yang luar biasa, kesibukan, dan organisasi.

Dua semester berlalu, perkuliah pun kembali berjalan normal sejak pandemi virus covid. Sejak itu, ada banyak dukungan dari dosen-dosen Politeknik Negeri Sriwijaya untuk berkembang melalu program Indonesia International Student Mobility Award. Pada bulan Januari 2023, kampus saya mengadakan Internal English Proficiency Test bagi siapapun yang ingin mencalonkan diri mengikuti program Indonesia International Student Mobility Award. Saya mengikuti test itu, tetapi skor saya rupanya belum bisa mencapai minimal mengikuti program tersebut. Tetapi sejak itu, saya merasakan bahwa saya bisa mencapaikan, jika saya sedikit lebih bekerja keras dan terus mendorong niat saya.

Benar saja, dengan mengambil segala resiko dengan prinsip kapan lagi jika tidak sekarang, skor test saya mencapai angka yang melebihi ekspetasi saya sendiri. Dengan penuh dukungan dan doa orang tua, saya memilih melanjutkan untuk mengikuti pendaftaran program Indonesia International Student Mobility Award 2023. Bukan hal mudah mengikuti kegiatan ini karena sangat banyak membutuhkan waktu dan menguras pikiran untuk hanya membuat essay. Saya sendiri merelakan waktu liburan akhir semester dan memberikan seluruh tenaga kepada program ini. Tidak terasa semuanya berlalu dengan hal yang sangat memuaskan. Akhirnya, setelah sekian lama, saya kembali melihat orang tua saya kembali tersenyum dan merasa sangat bangga terhadap saya.

Akhirnya, saat-saat yang dinantikan adalah departure date, hari dimana memulai perjalanan baru yang luar biasa dimulai. Saya bertemu 13 teman-teman yang sangat luar biasa dari berbagai negara. Selain banyak hal yang baru di Korea Selatan, saya juga banyak mendapatkan Pelajaran baru dari teman-teman dari banyak daerah seperti Bahasa, tradisi, dan kebiasaan yang berbeda-beda disetiap daerahnya.

Saat sampai, Ulsan College benar-benar menyambut kami dengan baik. Hal seperti itu saja membuat kami terkejut betapa baiknya mereka.   Tentu saja dari satu negara ke negara lain pasti akan adanya perbedaan. Culture Shock tentu saja saya alami di sini. Mahasiswa benar-benar terprioritas dan terbantu. Sampai sekarang, saya merasa sangat nyaman dengan cara pembelajarannya dan juga fasilitas kelas yang sangat lengkap.

Kegiatan awardees di sini sangat banyak. Selain belajar, kami juga mengikuti banyak festival, yang pertama adalah festival yang diadakan oleh University of Ulsan yang bertema menyambut musim gugur. Kami telah diberi fasilitas oleh Ulsan College, jadi kami hanya tinggal melaksanakan kegiatan yaitu memperkenalkan Indonesia dengan menjual Indomie Mie Goreng dan juga kesempatan memakai batik. Semua berjalan dengan lancer dan menyenangkan.

Kedua, festival yang diadakan di Daewangam Park yang bertema World Cultural Festival. Kami, awardee IISMA Ulsan College, diberi kesempatan untuk mewakili Indonesia pada festival tersebut dengan menyediakan kegiatan menarik seperti membuat wayang. Festival ini akan saya sebut sebagai yang paling melelahkan, tetapi juga sangat menyenangkan.

Kami juga mendapatkan kesempatan untuk bekerja sebagai karyawan dan training Lotte Hotel and Resorts. Untuk dua hari, Saya mendapatkan pembelajaran yang nyata terhadap hospitality yang biasa saya pelajari di Politeknik Negeri Sriwijaya. Hari pertama, kami mendapatkan training di Hotel Lotte di Ulsan. Kami membantu untuk menyiapkan sebuah konferensi dan saya mempelajari table manner dan macam-macam napkin. Hari kedua, kami berada di UECO untuk bekerja sebagai banquet untuk sebuah pertemuan antara negara Korea Selatan, Jepang, China, Rusia, dan Mongolia. Untuk sejujurnya, semua ini memang melelahkan. Kami harus mengikuti kegiatan akademik, kegiatan festival, industrial visit, field trip, internship yang telah terjadwal, juga harus mengerjakan laporan yang tiap minggu yang harus diberikan kepada IISMA dan juga Politeknik Sriwijaya. Tetapi orangtua saya selalu memberi tahu kalau saya bisa beristirahat saat kembali ke Indonesia, dan saya pikir itu benar. Sekarang saya sangat bersemangat untuk melakukan hal-hal baru yang lainnya dan menghabiskan waktu disini dengan kegiatan yang bermanfaat lainnya.

admin
Apa sih IISMA?

Awal semester tiga, ada cerita menarik dari sir Beni, cerita tentang kakak kakak yang berhasil kuliah di luar negeri. Setiap mata kuliah Writing, selalu ada dukungan yang besar dari sir Beni ; “semua orang bisa kuliah di luar negeri” Setiap pertemuan, pembahasan “essay adalah jantung IISMA” tidak pernah terlewatkan.Hari itu, untuk pertama kalinya essay kami di cek dan semua perjalanan tentang IISMA pun dimulai.

Sebelum mulai bercakap banyak, izinkan sang penulis untuk mengenalkan diri. Amanda Rahma Ayu, biasa dipanggil Amanda. Mahasiswi jurusan Bahasa Inggris di Politeknik Negeri Sriwijaya, mahasiswa semester lima yang menjalani magangnya di Irlandia, Eropa.

“Essay ini punya kemungkinan buat bisa lulus IISMA” kalimat sederhana, tapi menjadi awal semua bab kehidupan tentang IISMA. Untuk pertama kalinya, aku punya mimpi untuk kuliah di luar negeri. Selang berapa waktu, POLSRI mengadakan tes toeic gratis, jika pada tes tersebut nilai toeic bisa melebihi 605, biaya tes toeic untuk IISMA akan ditanggung oleh POLSRI. Tawaran yang menarik bukan? Tentu saja hal itu wajib untuk diikuti. Hari tes pun tiba, sayangnya score ku hanya 595, sangat tidak memungkinkan. Apakah aku kehilangan harapan? Jawabannya, iya. Namun, sir Beni memberi saran agar aku mengikuti tes toeic dengan biaya sendiri.

Semuanya bercampur aduk, rasa kecewa, pikiran tentang uang untuk tes mandiri serta takut gagal. Lalu, langkah apa yang ku lakukan? Tentu saja yang pertama adalah menangis. Menangis sambil menelfon orang tua, aku adalah anak rantau dari desa yang cukup jauh, Desa Lubuk Raman, Kabupaten Muara Enim. Tau apa kata pertama yang aku ucapkan?

“mama ayah, maaf”

Kedua orang tuaku tidak pernah tau mengenai IISMA, yang mereka tau, aku akan mengikuti tes agar bisa magang di luar kota. Niat hati ingin memberikan kejutan “aku berhasil lulus kuliah di luar negeri” berganti menjadi “mama, ayah, aku pengen ikut tes toeic, kalo lulus, aku bisa kuliah di luar negeri, tapi biaya tesnya mahal” lalu ayah merespon “iya nak, nanti ayah carikan, jangan nangis lagi”

Hari tes toeic IISMA pun tiba, hasil tes akan dikirimkan tiga hari kemudian. Untuk menghindari adanya kecurangan, kami diwajibkan untuk bergabung ke zoom meeting dengan pengawas yang berbeda. Aku jujur tidak berharap banyak, aku tidak punya rasa percaya diri yang tinggi dengan kemampuanku sendiri. Sore itu, aku sedang bersiap siap untuk kembali ke Palembang, ada email hasil tes toeic. Dengan rasa takut, aku membuka email tersebut dan berteriak, skor yang kudapat adalah 775.

Kepercayaan diri mulai meningkat, babak selanjutnya dimulai, yaitu Essay. Namun, ada juga beberapa hal yang perlu dipersiapkan, namun yang paling utama adalah essay. Mulai dari membuat outline, lalu merangkai satu persatu. Biasanya aku pergi ke POLSRI jam dua belas siang, sesuai dengan jam kuliah anak kelas siang. Namun kebiasaan itu mesti di ubah, terkadang jam tujuh pagi harus sudah berada di kampus, lanjut kuliah sampai sore. Malamnya mengerjakan essay, pola ini sangat sering terjadi. Sampai puncaknya, aku mimisan. Aku terlalu fokus dan menyepelekan kesehatan.  Namun itu sebanding dengan essay yang kubuat, hanya mendapatkan dua kali revisi dan siap untuk disubmit.

Setelah beberapa tes lainnya, wawancara merupakan tes yang paling aku takuti. Sehari sebelum wawancara, mama sempat memberikan dukungan, lalu besoknya, ayah juga menelfon dan memberikan dukungan. Dengan dukungan yang kuat, aku berhasil melalui wawancara, bahkan mendapatkan pujian “IISMA need fresh energy like you” apapun hasilnya, aku sudah melakukan semua hal yang ku bisa.

Hari pengumuman pun tiba, dan rasa tidak percaya diri itu muncul lagi. Namun, ini adalah hari penentuan. Setelah berdoa, aku membuka portal dan dinyatakan lulus di Dundalk Institute of Technology, Irlandia. Dan kembali lagi ke hari dimana tes toeic ku kurang, aku menangis lagi, namun kali ini dengan rasa syukur. 

Jika ingin pergi ke luar negeri, paspor merupakan hal prioritas. Jadwal pembuatan paspor di Palembang sudah penuh, sedangkan region Ireland memiliki deadline pengumpulan paspor yang lumayan cepat. Akhirnya, aku dan orang tua ku memutuskan untuk ke Muara Enim, sekitar tiga jam perjalanan dari rumah dan enam jam perjalanan dari Palembang. Walaupun lebih jauh, paspor ku berhasil tiba tepat waktu.

Selain itu, IISMA juga meminta SKCK dan surat negatif narkoba. Sama seperti pembuatan paspor, orang tua ku ikut mengantar. Mungkin aku terlihat seperti si manja, walaupun benar karna aku anak tunggal, namun, secara tidak langsung, aku melibatkan kedua orang tua ku dalam semua “perjalanan IISMA” aku ingin mereka tidak ketinggalan dengan semua hal yang ku lakukan.

Di Dundalk Institute of Technology, kami merupakan angkatan pertama yang tidak tau apa apa, jadi seringkali kami melakukan searching serta bingung karna tidak cukupnya informasi. Belum lagi pengurusan visa Irlandia, ada dokumen yang lupa dikirim sehingga harus kirim ulang dan memakan waktu lumayan lama, namun tetap berhasil selesai tepat waktu.

Hari keberangkatan kami pun tiba, setelah menempuh 20 jam perjalanan, kami akhirnya sampai ke dorm. Aku memilih ruangan dengan kapasitas empat orang, namun aku mendapatkan kamar VIP, kamar yang lebih luas serta memiliki kamar mandi dalam. Padahal aku yang terakhir memilih kamar, namanya juga rezeki.

Setelah masa orientasi, kami memulai kelas pertama kami. Aku tidak terlalu banyak berinteraksi di dua minggu pertama, namun saat memasuki minggu ketiga, aku mulai terbiasa mengobrol dengan murid maupun dosen DkIT (Dundalk Institute of Technology).

Mungkin beberapa dari kalian penasaran, apa saja hal yang ku lakukan selama berkuliah serta tinggal di negara orang. Silahkan cek beberapa foto dibawah ini ya!

Untuk pertama kalinya, aku diajari cara membuat kopi menggunakan mesin, selain itu,juga dibuatkan kopi oleh Aiden, dosen kami di mata kuliah Hospitality Enterprise Development. Mata kuliah ini berfokus pada kelas praktik kami, melakukan penjualan di kafe.

Selain itu, kami juga mengikuti acara DkIT Sport, acara ini bertujuan untuk mengenalkan organisasi yang ada di kampus. Kami memasak Indomie serta mengadakan beberapa game yang memiliki hadiah khas Indonesia.

Untuk mengenal satu sama lain lebih dekat, kami mengadakan acara House Warming, sebagai acara perkenalan kami kepada student dari berbagai macam negara.

Dosen disini juga masih menggunakan papan tulis, make sure semuanya paham. Irlandia juga punya pasar malam! Seru banget dan harganya masih masuk asal, sekitar €4 atau sekitar IDR 67,262.00/orang. Dosen sempat mengadakan tea time, dimana kami berdiskusi tentang industrial visit yang akan kami lakukan. Ada acara future career, ada banyak perusahan yang membuka lowongan kerja fulltime ataupun partime sesuai dengan course kami.

Ini adalah event terbesar kami, hampir 50 orang datang ke acara ini. Kami memperkenalkan budaya Indonesia serta menyajikan beberapa makanan khas.

Bukan hanya student DkIT, kami juga berkenalan dan menjadi akrab dengan student Shannon, kampus lain yang berada di Irlandia.

Dan ini merupakan suhu Dundalk. Biasanya ditambah dengan hujan serta angin yang kencang.

Sekarang usiaku 19 tahun dan memberanikan diri sendiri untuk kuliah ke Eropa, dimana berbagai macam hal sangat berbeda. Mulai dari makanan, cuaca serta pendekatan kepada penduduk lokal. Namun, hal ini juga menjadi salah satu experience yang akan sangat disesali jika dilewatkan. Terimakasih banyak untuk Politeknik Negeri Sriwijaya, yang sangat mendukung penuh kegiatan mahasiswanya, serta dukungan dari teman dan keluarga. Masih banyak hal lain yang akan ku lakukan, salah satunya ke Belfast (tempat syuting Harry Potter dan Kapal Titanic) serta mendapatkan banyak lagi teman. Dan, aku sangat sangat senang jika kalian ingin bertanya tentang IISMA ataupun IRELAND dan DkIT melalui akun Instagram (@amandarhmaaa)

admin
Meri Agustin; From Polsri to DkIT

Dia Dhuit! Saya Meri Agustin mahasiswi Jurusan Bahasa Inggris Politeknik Negeri Sriwijaya. Luar biasa sekali rasanya menjadi bagian dari program Indonesian International Student Mobility Awards 2023. Berkesempatan untuk menimba ilmu di Dundalk Institute of Technology, Irlandia. Berkat tekad yang kuat, seleksi satu persatu saya lalui. Bukan berarti menjadi Awardee adalah hal yang mudah, berat, berat sekali, saya bahkan pernah hilang arah dan ingin menyerah. Namun, berkat dukungan orang disekitar, dan memikirkan Kembali apa saja yang sudah saya lalui untuk sampai dititik ini membuat saya sadar, semua manusia punya Lelah tapi bukan berarti kita harus menyerah.

10 September 2023, saya bersama Sembilan teman lainya berangkat dari Bandar Udara Internasional Soekarno-Hatta menuju Dublin Airport. Perjalanan selama 20 jam kami tempuh untuk sampai di Irlandia. Banyak sekali perbedaan kami rasakan, mulai dari perbedaan budaya, cuaca, saya bahkan sudah demam dihari ketiga karena cuaca dingin. Awalnya, saya kira tidak akan mengalami kesulitan dalam berkomunikasi karena sudah memahami beberapa aksen, seperti American, British, dan Australian. Namun, faktanya aksen orang local Irlandia sangat berbeda dan mereka berbicara sangat cepat, saya perlu bertanya dua-tiga kali baru bisa memahami ucapan mereka. Seiring berjalanya waktu saya akhirnya bisa beradaptasi dan terbiasa.

Terlepas dari itu semua, ada banyak sekali hal yang mengesankan selama aku belajar disini. Lingkungan pembelajaran yang suportif, teman-teman sekelas yang ramah dan merangkul kami sebagai mahasiswa baru. Selain aktifitas belajar mengajar, kami diikutsertakan dalam kegiatan yang ada dikampus, seperti; DkIT Annual Careers Fair, dan kunjungan industry ke Dublin Royal Convention Centre. Kami juga bergabung dalam Indonesian Society dan berhasil mengadakan acara pertukaran budaya yang Bernama IndoFezz(Unity in Diversity), dalam acara tersebut kami memperkenalkan budaya Indonesia kepada mahasiwa DkIT melalui presentasi mengenai jenis-jenis batik, senam famire, memperkenalkan makanan khas Indonesia; Perkedel, Pentol, dan Jasuke. Acara kami tutup dengan memainkan permainan tradisional, seperti pipet estafet dan paku dalam botol. Semua peserta Nampak antusias sekali dalam acara kami saat itu. Untuk itu, saya berharap sekali kedepanya ada banyak lagi pemuda pemudi Indonesia yang berkesempatan mengenyam Pendidikan diluar negeri dan dapat memperkenalkan Indonesia dimata Dunia.

Sejatinya, dimana saya berpijak hari ini tidak terlepas dari usaha dan doa. Saya selalu percaya bahwa disetiap keinginan pasti ada jalan. Meskipun jalannya berbatu atau berliku, kamu hanya perlu percaya kepada dirimu sendiri. Seperti kata Tan Malaka “Terbentur, terbentur, terbentur, terbentuk!”

admin
Maulidina Dwi Ardya; Keluar dari zona nyaman tidak seburuk yang di pikirkan!

Nama saya Maulidina Dwi Ardya, namun teman-teman kerap memanggil saya Dina. Saya lahir dan tumbuh di kota yang merupakan kota tertua di Indonesia, Kota Palembang. Sejak saya kecil, orang tua saya selalu menekankan kepada saya bahwa pendidikan itu sangatlah penting, maka dari itu mereka selalu mendukung dan memfasilitasi kegiatan saya yang berhubungan dengan pendidikan, salah satunya adalah mereka selalu mendaftarkan saya di lembaga pendidikan yang mempunyai lingkungan dan akreditasi yang baik.

Politeknik Negeri Sriwijaya merupakan salah satu lembaga pendidikan yang menjadi pilihan saya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Saat ini saya merupakan mahasiswi semester 5 jurusan Bahasa Inggris di Politeknik Negeri Sriwijaya.

Pada saat saya memasuki semester 3, saya mendapatkan informasi bahwa ada sebuah program beasiswa yang dibuka oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud-Ristek), yaitu program IISMA (Indonesian International Student Mobility Awards). Program ini merupakan sebuah kesempatan emas untuk para mahasiswa/i sarjana maupun vokasi untuk dapat belajar di kampus-kampus ternama di luar negeri selama 1 semester yang dibiayai penuh oleh pemerintah. Pada awalnya saya sangat ragu untuk mendaftarkan diri di program ini, karena saya tahu bahwa saya tidak hanya bersaing dengan teman-teman sesama universitas saya saja, namun saya juga akan bersaing dengan mahasiswa dari universitas-universitas ternama yang ada di Indonesia. Hal tersebut hampir mengurungkan niat saya untuk mendaftarkan diri di program IISMA ini, namun dosen-dosen pengajar Politeknik Negeri Sriwijaya khususnya yang mengajar saya di jurusan Bahasa Inggris sangat mendukung para mahasiswa/i nya yang berminat untuk mendaftarkan diri di program IISMA. Politeknik Negeri Sriwijaya menyiapkan fasilitas yang sangat memadai untuk mahasiswa/i nya dalam mempersiapkan diri sebelum mendaftarkan diri di program IISMA. Mulai dari menyediakan bimbingan pengerjaan essai, try out beserta tes TOEIC gratis, persiapan berkas-berkas, dan workshop yang berkaitan dengan program IISMA. 

Dapat saya katakan bahwa dengan mendaftarkan diri saya di program IISMA ini, sama halnya dengan keluarnya saya dari zona nyaman. Tentu saja ada ketakutan akan penolakan serta banyaknya kesulitan yang saya alami dalam proses pendaftaran program IISMA ini. Namun saya sangat bersyukur saya mempunyai keluarga, teman, dosen serta lingkungan yang sangat suportif dalam membantu saya untuk menggapai apa yang saya impikan. Perjalanan saya belajar di luar negeri pun dimulai saat saya dinyatakan lulus pada program IISMA di Shannon College of Hotel Management, Irlandia pada tanggal 14 April 2023.

Tidak hanya sendiri, bersama 11 orang teman yang berasal dari universitas yang berbeda pada tanggal 8 september 2023 kami sampai di Irlandia dengan selamat. Pertama kali menginjakan kaki di Irlandia perasaan takut, sedih, dan bingung bercampur menjadi satu di diri saya. Namun semua perasaan itu tidak bertahan lama dan berganti menjadi rasa penasaran, senang dan semangat yang menggebu-gebu ketika saya memulai perkuliahan di Shannon College.

Sebagai mahasiswa Internasional, tentu tidak mudah bagi saya langsung beradaptasi dengan mahasiswa lokal, namun beruntungnya mahasiswa lokal di Shannon College sangat ramah dan sangat terbuka dengan mahasiswa Internasional. Tidak hanya mahasiswanya saja, namun dosen pengajar beserta staf yang ada di Shannon College juga sangat terbuka dan membantu kami dalam kegiatan akademik maupun non-akademik. Saya masuk ke dalam kelas yang digabung dengan mahasiswa lokal dan mahasiswa Internasional lainnya seperti Turki, Romania dan masih banyak lagi. Tentu saja hal tersebut membuat saya harus menggunakan bahasa Inggris penuh setiap harinya. Hal ini tentunya sangat bermanfaat bagi saya, karena secara langsung dapat membantu saya dalam melatih dan meningkatkan kemampuan saya dalam berbahasa Inggris. Disisi lain, proses pembelajaran di Shannon College hampir seluruhnya berbasis pada praktik yang mengharuskan saya untuk lebih aktif, kreatif, dan berpikir dengan cepat dalam mensukseskan pembelajaran.

Selain kegiatan akademik, pihak Shannon College juga memfasilitasi kami dalam membuat acara ‘Cultural Night’ untuk para mahasiswa Internasional. Acara tersebut kami gunakan sebaik mungkin untuk memperkenalkan adat, budaya, pakaian tradisional, makanan tradisional dan tidak lupa permainan tradisional dari berbagai penjuru Indonesia. Tidak hanya memperkenalkan adat dan budaya dari negara asal, kami juga dapat mengenal berbagai macam adat dan budaya dari berbagai penjuru dunia.

Tidak hanya melaksanakan perkuliahan, kesempatan untuk dapat terbang ke luar negeri tidak akan kami sia-siakan dengan hanya berdiam diri dirumah. Mengelilingi kota serta mengunjungi tempat-tempat baru bersama tema-teman tentunya dapat membuat kami lebih mengetahui budaya serta kebiasaan yang belum pernah kami temui sebelumnya. Hal tersebut membuat kami lebih terbuka akan perbedaan yang ada dan dapat lebih memahami nilai-nilai dari perspektif yang berbeda. Pada akhirnya, semua perjalanan ini merupakan hasil dari usaha, doa serta dukungan dari orang-orang terdekat. Banyak sekali pelajaran yang dapat saya ambil setelah menjadi salah satu IISMA awardee tahun ini. Besar harapan saya agar tulisan ini dapat membuat siapapun yang membacanya untuk tidak takut keluar dari zona nyaman dan terus berusaha dalam menggapai apa yang diimpikan.

admin
Athirah Putri Kamilah; Milestone yang Tidak Terduga di Tahun 2023

Halo semuanya! Namaku Athirah Putri Kamilah dari jurusan Bahasa Inggris Politeknik Negeri Sriwijaya. Senang rasanya bisa mendapatkan kesempatan untuk menimba ilmu selama satu semester di Negeri Daun Maple, tepatnya Humber College, lewat program Indonesian International Student Mobility Awards 2023. Tentunya semua perjalanan memiliki naik dan turun sedari awal muncul kata ‘niat’ untuk mengikuti program ini. Kata itu sendiri muncul disaat aku tidak memiliki kepercayaan bahwa aku bisa lulus untuk mengikuti program ini. Namun, seseorang datang kepadaku dan memberikan kata-kata penyemangat bahwa sejatinya aku bisa apabila aku mencoba untuk berusaha sebaik mungkin.

Mungkin saja waktu itu aku gagal, tapi usahaku tetap terhitung sebagai keberanian untuk mencoba keluar dari zona nyaman ‘anak rumahan’. Ya, aku belum pernah meninggalkan rumah dan ini benar-benar kali pertama ku hidup mandiri di luar naungan orang tua. Semuanya terasa sangat baru untukku dan aku meresapi setiap momennya.

Hidup sebagai anak dari guru bahasa Inggris tentunya semua bisa merasakan tekanan yang besar dari lingkungan sekitar. Guru, teman, keluarga, bahkan orang asing pun menginginkan sesuatu yang sama dengan apa yang orang tuamu lakukan, bahkan lebih. Semua tekanan itu memberikanku ide bahwa aku harus menjadi kesempurnaan dengan memiliki nilai yang tinggi. Tentu saja semua itu menjadi halangan tapi semua orang harus tetap mencoba yang terbaik, bukan? Aku mengikuti saran dari orang tuaku dan menempuh belajar di Politeknik Negeri Sriwijaya. Lalu aku bertemu seseorang yang memberikanku peluang yang banyak dan dorongan kuat untuk tetap maju meskipun semua ekspektasi menenggelamkan ku dalam pikiran. Dia jugalah yang memperkenalkanku dengan program IISMA ini.

Setelah diterima di program ini, perjalanan sebenarnya pun dimulai. Diriku dengan sembilan teman lainnya melakukan perjalanan kultural dari Indonesia ke Kanada. Banyak sekali tantangan yang aku hadapi sejak mendarat di host university. Dunia barat sangatlah berbeda dari yang aku bayangkan. Tentunya semua yang kualami adalah anugerah yang diberikan oleh Allah SWT.

Teman-teman yang menerimaku apa adanya, sistem pembelajaran yang menyenangkan, dan juga kegiatan yang memacu semangatku untuk terus maju. Salah satu sistem pembelajaran yang sangat aku gandrungi disini adalah ‘brain-pulling with quizizz’. Secara notabene, dosen akan memberikan kesempatan mahasiswa untuk mengingat pembelajaran minggu lalu dengan menggunakan website quizizz. Mahasiswa akan menebak jawaban dari pertanyaan yang diberikan, dan mereka yang mendapatkan skor tertinggi akan diberikan token berupa hadiah rahasia. Walaupun kita yang ‘kalah’ tidak mendapatkan hadiah, tapi kita menjadi tau dimana letak kesalahan kita dan bisa dengan mudah menghadapi ulangan tengah semester.

            Tentu saja selain belajar, kita juga harus tetap merasa nyaman tinggal disini. Berjalan keliling kota atau sekitar kampus bersama teman-teman ataupun sendiri adalah salah dua opsi yang bisa dilakukan. Tentunya berteman sebanyak mungkin bisa mengisi kekosongan yang dirasakan saat seseorang merasa jauh dari rumah, terlebih untuk pertama kalinya. Tapi kita juga perlu mendapatkan me-time untuk menyegarkan pikiran dari segala kesibukan yang ada di depan mata. Karena, hey! Dua langkah maju dengan satu langkah ke belakang agar kita tetap menapak di atas bumi dengan keyakinan diri. Bernafas sejenak tidak akan membuat kita menjadi lemah, justru kita akan bisa mengkalkulasi apa yang sudah dan apa yang akan kita lakukan sejauh ini. Istirahat setelah hari yang panjang bisa menjadi ide yang bagus sebagai bentuk apresiasi dari diri sendiri untuk diri sendiri.

Pada akhirnya, niat dan dorongan lah yang membawaku dimana aku berpijak saat ini. Tentunya semua usaha tidak bisa dipisahkan dari cinta, kasih sayang, dan doa yang diberikan orang-orang sekitarku dan kesempatan yang diberikan oleh semua pihak yang ada. Dengan segenap hati aku berharap bahwa akan ada banyak mahasiswa/i di Indonesia yang dapat mengejar mimpi mereka melalui program ini. Semakin banyak mimpi yang terwujud, semakin banyak perkembangan untuk kedepan.

admin
Iwan Setiadi; Baris Cerita Pembelajaran dari Kota Ulsan

Hai, saya Iwan Setiadi. Mahasiswa semester lima jurusan Bahasa Inggris dari Politeknik Negeri Sriwijaya. Saya lahir di Sumatera Selatan sekaligus tumbuh dalam kesederhanaan di sebuah desa transmigrasi bernama Penilikan. Rumah yang menempa saya menjadi pribadi yang berkreativitas tinggi, berjiwa inisiatif, serta “tahan banting”. Kombinasi tiga hal tersebutlah yang mengantarkan saya melalui masa-masa sulit, utamanya seusai lulus SMA di tahun 2019. Dua tahun lamanya, saya memutuskan untuk mengambil gap year dikarenakan ketidak-lolosan saya dalam beberapa tes masuk perguruan tinggi negeri, juga keterbatasan ekonomi keluarga yang jua menjadi rintangan dalam perjalanan menempuh pendidikan.

Pada masa tersebut sembari bekerja sebagai tukang Fotokopi, saya tetap berusaha menjaga semangat belajar serta mempertahankan kecintaan saya terhadap seni dan ilmu komunikasi-tepatnya bahasa Inggris. Bak gayung bersambut, usaha yang saya lakukan berbuah manis. Tepat pada bulan September 2021, saya resmi menjadi mahasiswa jurusan Bahasa Inggris di  Politeknik Negeri Sriwijaya setelah melalui tahapan seleksi jalur SBMPN yang cukup panjang.

Masa pandemi masih menyelimuti di awal masa perkuliahan sehingga pembelajaran masih dilaksanakan secara daring, meskipun demikian saya merasakan lingkungan belajar yang baik meskipun dalam keterbatasan. Di saat tersebut saya tidak hanya berfokus pada kegiatan akademik, melainkan mencoba aktif berorganisasi. Saya tergabung di HMJ Bahasa Inggris semenjak semester dua, organisasi yang mengajarkan saya banyak hal serta menumbuhkan keberanian dan rasa percaya diri yang saya miliki. Tiga semester berlalu, tibalah saat ketika saya memberanikan diri untuk mendaftar ke Program Indonesian International Student Mobility Awards (IISMA) pada tahun 2023 tepatnya ketika memasuki semester  empat perkuliahan. Berkat keberanian, usaha, serta bimbingan dari pihak yang mendukung saya (para dosen Bahasa Inggris, sahabat dekat, serta orang tua), saya berhasil lolos dan diterima di Ulsan College di Korea Selatan. Melaui program ini, terbentang lebar kesempatan berharga untuk menimba ilmu serta menuai pengalaman sosial-kulural yang sangat intens dan luar biasa.

Beradaptasi dengan lingkungan yang baru adalah tantangan yang tidak mudah-utamanya yang berkaitan dengan bahasa. Beruntung pembelajaran yang saya lalui menggunakan bahasa Inggris sebagai pengantarnya. Pembelajaran terkait ilmu hospitality, tourism industry, hingga terkait Korean Culture saya dapatkan disini dari profesor lokal bahkan beberapa profesor internasional yang juga mengajar di Ulsan College.

Selain itu, saya juga berhasil menjalin hubungan dengan teman-teman baik dari kalangan lokal maupun internasional. Salah satu teman saya yang cukup akrab ialah Samjik yang berasall dari Nepal. Melalui hubungan pertemanan tersebut saya mendapat pemahaman serta pengetahuan multikultural yang lebih luas serta memperkuat jiwa nasionalisme dan toleransi yang saya miliki.

Selanjutnya, salah satu pengalaman yang tak terlupakan adalah saat saya dan para Awardee Ulsan College berpartisipasi dalam Festival of Ulsan 2023. Dengan bimbingan dari Prof. Anna, Di sana kami berhasil mempromosikan budaya Indonesia melalui batik tradisional dan produk makanan khas Indonesia, seperti Indomie yang kami jajakan. Respons yang positif dari masyarakat Korea Selatan yang berkunjung serta beberapa orang asing dari beberapa negara seperti Nepal, Uzbekistan, bahkan dari Kanada sangat memotivasi kami. Tidak hanya itu, dalam kesempatan tersebut saya juga memiliki pengalaman berharga ketika bertemu dengan walikota Ulsan yang sempat berkunjung pada kesempatan tersebut.

Pada Jum’at, 06 Oktober 2023 kami berkesempatan untuk melakukan kunjungan industri lainya ke hotel dan tempat pelaksanaan MICE Event terbesar di kota Busan, yang memberi saya wawasan mendalam tentang industri pariwisata. Tepatnya kunjungan pembelajaran ke Ramada Encore Hotel Busan Station dan BEXCO. Dari sini saya mendapatkan pelajaran secara langsung terkait ilmu perhotelan serta pelaksanaan eksibisi bertaraf internasional.

Kami juga mendapat kesempatanuntuk melakukan program mini internship di Lotte Hotel Ulsan dan berpartisipasi dalam penyelenggaraan kegiatan eksibisi Internasional bertajuk NEAR 2023, yang mengajarkan kami begitu banyak hal utamnya penyelenggaraan kegiatan yang bertaraf internasional. Kami secara langsung berlatih sebagai banquette dan menjalani proses dari mulai persiapan hingga selesainya pagelaran tersebut

Secara keseluruhan, perjalanan saya sebagai mahasiswa IISMA di Ulsan College telah memberikan banyak peluang dan pengalaman yang sangat berharga. Saya merasa bersyukur dapat menggabungkan pengembangan akademik, pengalaman budaya, dan pertemanan yang luar biasa dalam perjalanan ini. Sebagai penutup saya hendak menyampaikan apresiasi serta terima kasih sebesar-besarnya kepada panitia IISMA, LPDP, pihak kampus, dan semua pihak yang mendukung saya hingga mencapai ke titik ini. Saya berharap kedepannya kampus Merdeka akan semakin berkembang agar mahasiswa profesional lainnya dapat mewujudkan cita-citanya untuk kuliah di luar negeri, dan peluang universitas koperasi lebih besar dibandingkan angkatan saat ini. Saya berharap pelatihan vokasi di Indonesia dapat terus berkembang.

admin
Dira Ayundari; Mengembara di Kota Ulsan, Meraih Impian dalam Keterbatasan

Nama saya Dira Ayundari, berasal dari kota Nanas, Prabumulih Sumatera Selatan. Saat ini saya adalah mahasiswi Politeknik Negeri Sriwijaya Jurusan Bahasa Inggris yang sedang duduk di semester 5.  Saya percaya bahwa hidup adalah pengembaraan panjang yang penuh rintangan dan juga kesempatan. Sejak saya kecil, saya selalu bermimpi untuk bisa mengenyam pendidikan di luar negeri, dan Korea Selatan menjadi negara Impian saya, negara yang kaya akan budaya, teknologi yang maju, dan juga sistem pendidikan yang berkualitas. Namun, semua mimpi itu terasa sangat mustahil dikarenakan kondisi ekonomi keluarga saya. Oleh sebab itu saya tumbuh sebagai seseorang penuh kesadaran bahwa pendidikan sangat penting dan itu adalah hal yang bisa membawa saya untuk meraih mimpi dan menciptakan masa depan yang lebih baik.

Dan hal itupun tercapai, saat saya dinyatakan lulus program beasiswa IISMA (Indonesian International Student Mobility Award) 2023 yang akhirnya mengantarkan saya menuju perjalanan baru yang penuh harapan di Ulsan College, Korea Selatan.

Tentunya ada banyak rintangan di sepanjang perjalanan saya. Namun, impian untuk belajar keluar negeri dan mencari kesempatan untuk mengembangkan diri terus menguatkan saya. Dan disinilah awal  perjalanan saya menghadapi tantangan di Ulsan College dimulai. Sebagai Mahasiswa yang masuk ke kelas Internasional mengharuskan kami menggunakan Bahasa inggris setiap harinya. Hal ini tentunya sangat menarik sekaligus mengesankan. Melalui kesempatan belajar di kelas internasional ini kami bisa melatih dan meningkatkan kemampuan Bahasa inggris kami.  Selain itu, mendapatkan teman sekelas dari Nepal adalah sebuah hal baik bagi kami, dengan begitu kami bisa bertukar cerita dan pengalaman tentang negara masing-masing dan mendapat banyak hal baru setiap harinya. Kesempatan ini berguna untuk membangun jaringan yang lebih luas dan membantu kami untuk bisa memahami nilai-nilai yang berbeda. Menurut saya, belajar di luar negeri itu adalah tentang bagaimana memahami budaya dan menghargai keragaman yang ada.

Begitu juga dengan proses belajar kami, mata kuliah yang berbeda, metode yang berbeda membuat kami lebih aktif, inovatif serta kreatif dalam proses pembelajaran. Tetapi ini bukan hanya tentang kompetisi untuk mendaptakan nilai akademik yang sempurna. Pengalaman yang didapat selama pembelajaran, interaksi kepada dosen dan teman internasional juga sangatlah bermakna. Setiap detik yang kami lalui disini tentunya akan menjadi cerita indah dan juga menjadi bekal kami untuk berkembang lagi kedepannya.

Selain pembelajaran akademik, kami sebagai mahasiswa Manajemen Pariwisata yang ada di dalam departemen Global business juga melakukan kunjungan Industri. Senang sekali rasanya kami bisa mendapat kesempatan untuk berkunjung ke BEXCO (Busan Exhibition and Convention Center), Ramada Hotel dan Juga Ulsan Lotte Hotel. Bisa merasakan langsung terjun ke dunia kerja, mendapatkan pengalaman berkunjung ke eksibisi internasional dan bertemu orang baru yang tentunya menambah wawasan dan networking kami di Industri Perhotelan. Harapannya saya semua ilmu yang kami dapatkan disini, bisa berguna saat kembali ke tanah air nanti, baik untuk menyelesaikan laporan Akhir dan juga tentunya untuk memajukan Industri pariwisata dan perhotelan Indonesia. Selain itu, dengan kesempatan belajar di luar negeri, saya bisa mengeksplorasi dan menjelajahi banyak tempat baru serta menikmati keindahan alam dan mempelajari sejarah dan juga budaya yang ada.

Ini adalah momen yang sangat luar biasa dalam hidup saya. Saya bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa dan saya mengucapkan terima kasih banyak kepada semua pihak yang telah mendukung saya selama perjalanan ini. Ini bukanlah akhir, melainkan awal dari pengembaraan saya. Saya belajar bahwa perjalanan ini adalah tentang berani mencoba, menemukan tekad dalam diri, melintasi hambatan, dan belajar menerima perubahan dalam kehidupan. Dan pada akhirnya, dengan tulisan ini saya berharap dapat memberikan semangat dan menjadi motivasi bagi orang lain yang juga sedang berjuang untuk meraih mimpinya.

admin